Kebakaran hutan dan lahan di Parigi Moutong mencapai 21 hektare, BPBD Sulawesi Tengah menetapkan status siaga untuk mencegah karhutla
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Sulawesi Tengah. Kali ini, bencana tersebut terjadi di Kabupaten Parigi Moutong dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 21 hektare. Kondisi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah menetapkan status siaga guna mengantisipasi meluasnya kebakaran.
Temukan informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Sulawesi Indonesia.
Karhutla Meluas di Sejumlah Titik
Kebakaran hutan dan lahan di Parigi Moutong terpantau terjadi di beberapa titik yang sebagian besar berada di kawasan semak belukar dan lahan kering. Kondisi cuaca panas dan minimnya curah hujan mempercepat penyebaran api.
Petugas mencatat luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 21 hektare. Api dengan cepat merambat karena vegetasi kering mendominasi area tersebut. Akses menuju lokasi yang sulit turut menyulitkan proses pemadaman.
Warga sekitar mengaku khawatir kebakaran akan merembet ke lahan pertanian dan kebun mereka. Sejumlah petani mulai bersiaga untuk mengamankan aset dan hasil panen yang berada tidak jauh dari titik api.
BPBD Sulteng Tetapkan Status Siaga
Melihat potensi ancaman yang terus meningkat, BPBD Sulawesi Tengah menetapkan status siaga karhutla di wilayah Parigi Moutong. Status ini memungkinkan mobilisasi sumber daya dan peralatan pemadaman secara lebih cepat dan terkoordinasi.
BPBD bersama pemerintah kabupaten mengaktifkan posko siaga bencana. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat dikerahkan untuk melakukan pemadaman darat.
Penetapan status siaga juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengajukan bantuan tambahan apabila situasi memburuk. Langkah ini dinilai krusial guna mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Massa Terobos Rapat Paripurna HUT ke-66 Bulukumba Tolak Proyek BPIC
Upaya Pemadaman dan Kendala di Lapangan
Tim pemadam kebakaran menghadapi berbagai kendala saat berupaya menjinakkan api. Medan yang berat, minimnya sumber air, serta angin kencang menjadi tantangan utama di lapangan.
Petugas mengandalkan peralatan manual dan mesin pompa air untuk memadamkan api. Mereka bekerja siang dan malam demi menekan perluasan kebakaran. Masyarakat setempat turut membantu dengan peralatan seadanya.
Meski demikian, proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. BPBD mengimbau seluruh personel tetap mengutamakan keselamatan saat bertugas, mengingat kondisi lahan yang rawan dan sulit diprediksi.
Dampak Karhutla Bagi Warga
Asap akibat kebakaran mulai dirasakan warga di sekitar lokasi terdampak. Beberapa warga mengeluhkan gangguan pernapasan ringan, seperti batuk dan iritasi mata.
Aktivitas warga juga terganggu, terutama di sektor pertanian dan perkebunan. Lahan yang terbakar berpotensi menurunkan produktivitas dan merugikan ekonomi masyarakat setempat.
Pemerintah daerah mengimbau warga menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Upaya pencegahan dampak kesehatan terus dilakukan sembari menunggu kondisi membaik.
Ancaman Karhutla di Musim Kering
Karhutla di Parigi Moutong menjadi peringatan serius menjelang musim kering. Risiko kebakaran dinilai masih tinggi jika cuaca panas berkepanjangan dan tidak disertai hujan.
BPBD Sulteng menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah karhutla. Aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan diminta untuk dihentikan karena dapat memicu kebakaran besar.
Pemerintah daerah juga mendorong penguatan edukasi dan patroli terpadu. Pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dibanding penanganan saat kebakaran sudah meluas.
Langkah Pencegahan dan Harapan ke Depan
Pemerintah bersama BPBD terus menyusun langkah strategis untuk mencegah terulangnya karhutla. Sosialisasi bahaya kebakaran dan penegakan hukum menjadi fokus utama.
Selain itu, pemetaan wilayah rawan kebakaran dilakukan agar penanganan lebih cepat dan tepat sasaran. Teknologi pemantauan hotspot juga mulai dimaksimalkan untuk deteksi dini.
Masyarakat berharap penanganan karhutla berjalan optimal dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama dalam menjaga lingkungan serta mencegah bencana serupa di masa depan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari Kompas.com
- Gambar Kedua dari Tribun Palu