Heboh menu MBG SDN 166 Pinrang ditemukan ulat diduga dari ikan tuna, Orang tua resah, pihak sekolah beri penjelasan.
Suasana makan siang di SDN 166 Pinrang mendadak berubah geger. Sejumlah siswa menemukan ulat di dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan, diduga berasal dari olahan ikan tuna.
Temuan ini langsung memicu kekhawatiran orang tua serta menjadi sorotan warga sekitar Sulawesi Indonesia, mengingat program MBG seharusnya menjamin keamanan dan kualitas gizi bagi para siswa.
Ulat Ditemukan Di Menu MBG SDN 166 Pinrang
Siswa SDN 166 Desa Pananrang, Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dihebohkan dengan temuan ulat di menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (21/1/2026). Temuan ini awalnya diduga berasal dari lauk ikan tuna yang diolah untuk menu harian siswa.
Ketua Komite Sekolah, Baharuddin, mengungkapkan bahwa pihak sekolah segera menindaklanjuti laporan tersebut. Ia memanggil Kapolsek Mattiro Bulu, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Kepala Desa Pananrang untuk meninjau langsung kejadian tersebut.
Menurut Baharuddin, ada indikasi bahwa ikan tuna yang digunakan bukan dalam kondisi segar. Ia mempertanyakan prosedur pengolahan yang dilakukan malam sebelumnya, karena kemungkinan ulat muncul akibat penyimpanan atau pengolahan yang tidak tepat.
Kontroversi Asal Ulat
Baharuddin mendesak pihak pengelola MBG bertanggung jawab penuh. Ia mengkhawatirkan dampak kesehatan bagi siswa jika ulat tersebut memang berasal dari lauk yang diolah tidak higienis. Ini harus ada bentuk pertanggungjawaban agar kejadian serupa tidak terulang dan evaluasi bisa dilakukan, ujarnya.
Namun, Kepala SPPG Manarang, Muh Ali Fikri, memberikan klarifikasi terkait temuan tersebut. Setelah dilakukan penelusuran internal, ulat ternyata berasal dari buah rambutan yang disertakan dalam paket MBG, bukan dari ikan tuna.
Ali Fikri menambahkan bahwa kemungkinan ulat berpindah ke menu ikan selama proses distribusi makanan. Meski demikian, pihak pengelola mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan dan berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh agar kualitas makanan tetap terjaga.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Teluk Tomini, Getaran Terasa Hingga Kota
Proses Evaluasi Dan Penanganan
Pihak SPPG Manarang menegaskan bahwa evaluasi akan dilakukan pada seluruh tahapan pengolahan dan distribusi makanan. Proses sortasi bahan makanan, terutama buah-buahan, akan diperketat sebelum diserahkan kepada sekolah.
Selain itu, sterilisasi dapur dan pengawasan selama pengolahan menjadi fokus utama. Hal ini bertujuan untuk memastikan semua menu MBG yang disajikan aman dikonsumsi oleh siswa dan bebas dari kontaminasi.
Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan orang tua dan masyarakat terhadap program MBG, sekaligus mencegah munculnya permasalahan serupa di masa mendatang.
Komitmen Keamanan Makanan Bagi Siswa
Pihak sekolah dan SPPG menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan siswa menjadi prioritas utama. Penanganan insiden ini sekaligus menjadi bahan evaluasi agar program MBG tetap berjalan sesuai standar keamanan pangan.
Koordinasi antara sekolah, komite, dan pihak pengelola makanan diintensifkan. Semua pihak sepakat untuk meningkatkan pengawasan dan pelatihan bagi staf dapur agar standar higiene dapat diterapkan secara konsisten.
Dengan langkah-langkah ini, program MBG di SDN 166 Pinrang diharapkan tetap memberikan manfaat gizi bagi siswa tanpa menimbulkan risiko kesehatan. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kontrol mutu yang ketat dalam penyediaan makanan bagi anak-anak.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari nasional.kompas.com