Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, diselimuti duka mendalam setelah diterjang banjir bandang dahsyat.
Insiden yang terjadi pada dini hari ini menyisakan kehancuran dan kehilangan, dengan 16 korban jiwa serta ratusan rumah rusak parah. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam yang tak terduga dan urgensi kesiapsiagaan bencana.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Sulawesi Indonesia.
Detik-Detik Mencekam Dini Hari
Banjir bandang menerjang dua kelurahan dan enam desa di Kabupaten Sitaro pada Senin (5/1) sekitar pukul 03.00 Wita. Waktu kejadian yang masih gelap gulita menambah kepanikan dan mempersulit upaya penyelamatan, membuat warga terbangun dalam keadaan darurat yang mencekam.
Wilayah terdampak banjir tersebar di empat kecamatan, meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Skala kerusakan yang meluas menunjukkan intensitas bencana yang luar biasa, memukul berbagai komunitas secara bersamaan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi data korban jiwa. Hingga Selasa (6/1/2025), sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana ini, dengan lima di antaranya telah teridentifikasi, sementara 11 lainnya masih dalam proses.
Dampak Luas, Korban Jiwa Dan Kerusakan Infrastruktur
Selain korban meninggal, 22 orang mengalami luka-luka dan telah dirujuk ke Puskesmas setempat. Dua korban luka serius bahkan harus dievakuasi ke rumah sakit di Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan yang lebih intensif.
Jumlah pengungsi sementara tercatat sekitar 682 jiwa, menunjukkan skala pengungsian yang besar akibat hilangnya tempat tinggal. Mereka kini membutuhkan bantuan mendesak berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara yang layak.
Dari sisi kerusakan fisik, banjir bandang menyebabkan tujuh unit rumah hanyut, 29 unit rusak berat, dan 112 unit rusak ringan. Angka ini mencerminkan kerugian materiil yang sangat besar bagi masyarakat Sitaro.
Baca Juga: TNI-Brimob Bentrok Usai Laga Sepak Bola di Buton Selatan
Kerugian Infrastruktur Dan Fasilitas Publik
Banjir bandang menerjang dua kelurahan dan enam desa di Kabupaten Sitaro pada Senin (5/1) sekitar pukul 03.00 Wita. Waktu kejadian yang masih gelap gulita menambah kepanikan dan mempersulit upaya penyelamatan, membuat warga terbangun dalam keadaan darurat yang mencekam.
Air deras menghanyutkan rumah, kendaraan, dan harta benda, sementara petugas SAR dan relawan berjuang mengevakuasi korban serta memberikan bantuan darurat kepada warga terdampak.Bangunan kantor dan infrastruktur penting turut menjadi korban keganasan banjir. Salah satunya adalah Gedung Mapolres Sitaro yang rusak parah, bahkan tiga bangunan lantai satu di dalamnya hancur.
Kapolres Sitaro, AKBP Iwan Permadi, melaporkan bahwa aula dan gedung reserse sabhara intel di Mapolres hancur. Untungnya, lima tahanan berhasil dievakuasi pada pukul 02.00 subuh sebelum banjir bandang melanda, menunjukkan kesiapsiagaan personel.
Tanggap Darurat Dan Harapan Pemulihan
Kerusakan parah ini menyebabkan pelayanan di Mapolres Sitaro lumpuh total, termasuk terputusnya pasokan listrik. Kondisi ini secara signifikan mengganggu fungsi pemerintahan dan keamanan di wilayah terdampak.
Pemerintah Kabupaten Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Penetapan ini bertujuan mempercepat penanganan darurat dan koordinasi bantuan.
Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, menekankan bahwa status tanggap darurat ini penting untuk memastikan seluruh sumber daya dapat dimobilisasi secara efektif demi membantu korban dan memulai proses pemulihan.
Jangan lewatkan update berita seputaran Sulawesi Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari prudensi.com