Setelah 30 tahun mengabdi sebagai guru ngaji di Makassar, Hamzah akhirnya diangkat PPPK, perjuangan panjangnya berbuah manis.
Perjuangan panjang tak selalu mudah, tapi selalu membuahkan hasil. Hamzah, guru ngaji di Makassar, mengabdi selama 30 tahun tanpa lelah. Kini, dedikasinya diakui resmi dengan pengangkatan sebagai PPPK, menjadi inspirasi bagi para pendidik dan masyarakat luas.
Kisah ini bukan hanya soal pengakuan jabatan, tapi juga bukti bahwa kesabaran dan pengabdian seumur hidup selalu berbuah manis. Simak perjalanan inspiratif Hamzah dan dedikasinya yang mengharukan di Sulawesi Indonesia berikut.
Dedikasi Hamzah, Guru Ngaji Makassar Selama Tiga Dekade
Suara anak-anak melafalkan huruf hijaiyah terdengar bersahut-sahutan di sudut Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Minggu (22/2/2026). Hamzah (54) duduk tenang, membetulkan bacaan satu per satu dengan sabar.
Sejak TPQ di masjid terbesar Kota Makassar itu dibuka pada 1996, Hamzah menjadi salah satu guru ngaji pertama. Saat itu usianya masih 20-an tahun, sedangkan teman sebayanya memilih merantau atau mencari pekerjaan tetap.
Ia menekuni jalan ini karena cinta pada pendidikan Al Quran. Saya orang pertama, begitu diresmikan Al-Markaz langsung buka TPQ, ya sampai sekarang, tuturnya. Dedikasinya tak pernah luntur meski puluhan tahun berlalu.
TPQ Al Markaz: Awal Ramainya Santri Dan Guru
Di masa awal, TPQ Al Markaz dipadati santri. Hamzah mengenang ribuan anak datang berbondong-bondong karena pendidikan di sana gratis dan tanpa dipungut biaya.
Sekitar 100 guru ngaji ikut mengajar, namun sebagian besar meninggalkan TPQ karena insentif yang terbatas. Kini, hanya dua guru yang masih bertahan, termasuk Hamzah.
Meski jumlah guru berkurang, semangat Hamzah tetap sama. Ia terus mengajar dengan tekun, memastikan kualitas belajar Al Quran tetap terjaga. Anak-anak tetap menerima ilmu dengan penuh perhatian.
Baca Juga: Heboh! Buaya 4 Meter Muncul di Pantai Minahasa, Warga Tangkap Pakai Jubi
Menghadapi Keterbatasan Honor Dan Kebutuhan Hidup
Mengandalkan penghasilan sebagai guru ngaji bukan perkara mudah. Honor awal hanya sekitar Rp 80 ribu per bulan, kini paling banyak Rp 1 juta.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Hamzah membuka privat mengaji di luar jam TPQ. Ia menerima panggilan mengajar dari warga sekitar, sehingga tetap bisa membantu ekonomi keluarga tanpa meninggalkan TPQ.
Bagi Hamzah, uang bukan segalanya. Kepuasan terbesar adalah melihat anak-anak yang dulu ia ajar kini tumbuh menjadi generasi berilmu dan berakhlak baik, menjadi bukti pengabdian selama puluhan tahun.
Tantangan Mengajar Di Lingkungan Padat Dan Dinamis
Masjid Al Markaz berdiri di tengah kota, dikelilingi kawasan padat penduduk yang terkadang rawan bentrok. Beberapa santri takut datang saat kondisi lingkungan tidak kondusif.
Kini jumlah santri berkurang menjadi sekitar 160 anak usia 5 hingga 12 tahun, dibimbing enam guru. Hamzah tetap sabar menghadapi perbedaan karakter anak zaman sekarang dibanding generasi awal.
Ia memahami tantangan pengajaran semakin kompleks, mulai dari gangguan lingkungan hingga adaptasi metode belajar anak modern. Kesabaran menjadi kunci utama agar ilmu terserap dengan baik.
Pengakuan Dan Kebahagiaan Menjadi PPPK
Tiga puluh tahun mengabdi akhirnya berbuah manis. Pada 2025, Hamzah resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kementerian Agama Sulawesi Selatan.
Meski kini berstatus aparatur negara, ia tetap mengajar di TPQ. Ruang kecil di Masjid Al Markaz menjadi saksi perjalanan panjangnya, membimbing anak-anak membaca Al Quran dengan ketekunan tanpa kenal lelah.
Sepanjang saya masih bisa mengajar, saya tidak akan berhenti mengajar ngaji, ujarnya. Di tengah riuh kota Makassar yang terus berubah, Hamzah tetap duduk di antara santri, membetulkan makhraj dan panjang-pendek bacaan seperti sejak 1996.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari mp.fip.unesa.ac.id