Banjir bandang melanda Sitaro, Sulawesi Utara, menyebabkan belasan warga tewas serta ratusan rumah rusak parah.
Banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, menimbulkan kehancuran dan duka. Dipicu hujan deras, bencana ini merenggut belasan nyawa, menghanyutkan rumah, dan memaksa ratusan warga mengungsi. Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Sulawesi Indonesia.
Hujan Deras Picu Banjir Bandang Tiba-Tiba
Peristiwa tragis ini bermula pada Senin, 5 Januari 2026, dini hari, sekitar pukul 02.30 WITA. Hujan dengan intensitas sangat tinggi tanpa henti mengguyur wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan sungai-sungai meluap dengan cepat dan tiba-tiba, menciptakan arus deras yang berubah menjadi banjir bandang.
Kecepatan aliran air yang besar tak memberi kesempatan warga menyelamatkan harta benda. Dalam sekejap, permukiman di bantaran sungai diterjang air bah membawa lumpur, bebatuan, dan pepohonan tumbang. Kepanikan melanda saat warga mencari tempat aman di kegelapan dini hari.
Empat kecamatan menjadi area terdampak utama, meliputi Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Dampak terparah terlihat di dua kelurahan dan enam desa yang tersebar di wilayah tersebut, di mana infrastruktur dan rumah-rumah warga menjadi sasaran amukan banjir.
Kerugian Materiil Dan Korban Jiwa
Dampak banjir bandang terhadap permukiman warga sangatlah parah. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa, 6 Januari 2026, pukul 16.00 WIB, mencatat total 148 rumah terdampak. Angka ini mencakup tujuh unit rumah yang hanyut tersapu arus, 29 unit rumah rusak berat, dan 112 unit rumah mengalami kerusakan ringan.
Selain kerugian pada sektor permukiman, sejumlah akses jalan vital juga dilaporkan terputus akibat timbunan material longsor dan genangan air. Beberapa bangunan kantor pemerintahan dan infrastruktur publik lainnya juga tidak luput dari kerusakan, menghambat aktivitas pelayanan dan mobilitas warga di Sitaro.
Tragisnya, bencana ini menelan korban jiwa. Sebanyak 16 orang meninggal dunia, lima di antaranya telah teridentifikasi. Tiga orang masih hilang dan dalam pencarian tim SAR gabungan. Selain itu, 24 orang luka-luka, dengan 22 dirawat di puskesmas dan dua lainnya dirujuk ke rumah sakit di Manado.
Baca Juga: Pria di Buteng Tewas Dikeroyok Usai Cari Istrinya di Rumah Mertua
Upaya Penanganan Darurat, Evakuasi Dan Bantuan Kemanusiaan
Merespons bencana ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro segera berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BPBD Provinsi Sulawesi Utara, Basarnas, unsur TNI/Polri, perangkat kecamatan dan kelurahan, serta relawan. Prioritas utama adalah pencarian korban hilang dan evakuasi warga terdampak.
Sebanyak 682 jiwa tercatat sebagai pengungsi sementara, dan angka ini terus diperbarui seiring dengan pendataan yang terus berlangsung. Mereka ditempatkan di lokasi-lokasi yang lebih aman, dan bantuan darurat berupa kebutuhan pokok telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Pemerintah daerah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Sitaro selama 14 hari, terhitung dari 5 hingga 18 Januari 2026. Keputusan ini, yang tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 1 Tahun 2026, bertujuan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan pasca-bencana.
Kondisi Terkini Dan Harapan Pemulihan
Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dalam penanganan intensif oleh tim gabungan. Fokus utama tetap pada upaya pencarian korban hilang yang tersisa dan memastikan pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Proses pendataan kerugian materiil juga terus dilakukan untuk menghitung skala kerusakan secara akurat.
Meskipun dalam situasi sulit, semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Sitaro terlihat jelas. Bantuan dari berbagai pihak terus mengalir, menunjukkan kepedulian terhadap sesama yang sedang dilanda musibah. Diharapkan, dengan kerja sama yang solid, Sitaro dapat segera bangkit dari keterpurukan ini.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemulihan, mulai dari pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak hingga perbaikan infrastruktur. Fokus jangka panjang adalah mitigasi bencana untuk meminimalisir risiko serupa di masa depan, agar Sitaro dapat kembali menjadi daerah yang aman dan sejahtera.
Jangan lewatkan update berita seputaran Sulawesi Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari makassar.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari makassar.tribunnews.com